contoh-teks-anekdote.jpg


Asal-Usul Lontong Balap

lontong-balap.jpg


Suatu hari sepulang sekolah, perut Elita dan Laila berbunyi. Melihat penjal lontong balap di pingiran jalan, merekapun datag menghampiri.

Saat sedang asyik menyantap lontong balap tersebut, terlintas suatu pertanyaan di pikiran Elita, lalu menanyai pedagang lontong balap tersebut.

"Mbah , kok namanya lontong balap ?"
"Dulu Mbah nggak pakai gerobak, Nak. Kuali-kualinya mbah pikul sendiri. Berat. Saking beratnya sampai jalannya cepat-cepat. Lha, orang-orang
di pinggir jalan ngelihatnya kaya orang balapan. Jadi dipanggil lontong balap.
"

"Tapi kok sekarang masih dipanggil lontong balap, mbah ? Kan sudah pakai grobak ?"

"Lho iya, Nak. Sekarang masih balapan. Balapan sama satpol PP."


Mendengar jawaban si Mbah tersebut Elita dan Laila pun tertawa lalu melanjutkan menikmati lontong balapnya.

STRUKTUR TEKS ANEKDOT ASAL USUL LONTONG BALAP






Humor Dari Surga


Ada serombongan manusia yang sedang menunggu masuk penjara yang sedang masuk di pintu surga. Mereka dipanggil satu-persatu oleh pejabat malaikat yg bertugas di sana.

Di sinding belakang tergantung puluhan jam dinding sebagaimana layaknya yg terlihat di bandara udara saja. Tetapi ada perbedaannya dengan jam yang ada di dunia ini. Kalau jam di dunia menunjukkan posisi waktu yang berbeda-beda untuk berbagai kota tujuan, jam di dinding di surga juga berbeda kecepatan putarannya.

Salah seorang yang agak bingung bertanya kepada malaikat di sana.

"Hai ,Malaikat, mengapa jam-jam ini putarannya berbeda-beda ?"
"Oh itu, jam yang tergantung di sana menunjukkan tingkat kejujurab pejabat pemerintah yang ada di dunia sewaktu anda hidup." jawab sang malaikat.

"Semakin jujur pemerintaha di negara Anda, jam negara Anda di sini semakin lambat. Sebaliknya semakin korup pejabat pemerintah negara Anda, sekin cepat pula jalannya," lanjut sang malaikat.

"Coba lihat," kata seseorang yg sedang antre kepada yg lainnya, "Jam Filipina berputar kencang. Berarti memang benar Marcos banyak korupsinya."

"Itu lagi!itu lagi!" seru yang lainnya, "Jam Kongo negaranya Mobutu Seseseko berputar tidak kalah cepatnya dari jam Filipina."

Mereka semua terlihat asyik menikmati perputaran jam-jam tersebut. Tapi mereka mencari-cari, di mana gerangan jam Indonesia. Salah seorang dari mereka memberanikan diri menanyakan kepada malaikat tadi.

"Hai Malaikat, di manakah gerangan jam Indonesia ?"
"Oh, jam Indonesia. Kami taruh di belakang dapur. Sangat cocok dijadikan kipas angin,
" jawab sang Malaikat.







Antara Petani, Kapitalis dan Mliteris


Tersebutlah suatu hari pada masa orde baru, di sebuah restoran dari hotel bintang lima kelas internasional terdapat tiga kelompok dengan strata sosial yang berbeda, yaitu petani miskin dan buruh tani yang di undang dalam seminar gratis tentang pertanian, kelompok konglomerasi kapitalis yang mengikuti konferensi peningkatan kebebasan penanaman modal, dan sekelompok jendral yang menghadiri pertemuan dengan pakar persenjataan dari Amerika dan Pentagon.

Kebetulan mereka menunggu makan malam dengan menu yang sama yaitu steak.
Setelah agak lama menunggu, kepala pelayan restoran datang dengan teropoh-gopoh menemui ketiga orang itu secara bergantian dan menjelaskan bahwa makanan steak tidak bisa di sajikan

"Maaf, kami kekurangan daging impor ?"

kaum tani dengan lugu bertanya "Apa maksudnya daging impor ?"

kelompok konglomerat dengan datar bertanya "Apa maksudnya kekurangan ?"

Sedangkn para jendral dengan dingin bertanya "Apa maksudnya maaf ?"